manado138
LIVERasa masakan Manado tidak bisa diringkas sebagai "pedas" saja. Cabai memang menonjol dalam banyak hidangan Minahasa, tetapi jenis bahan utama dan cara mengolahnya juga membedakan satu sajian dari yang lain: ada ikan cakalang asap, bubur, sup kacang merah, hingga daging berbumbu yang dimasak dalam bambu [1].
Cabai menonjol, tetapi bukan satu-satunya penentu
Rica, sebutan untuk cabai dalam bahasa Minahasa, digunakan dalam beragam hidangan, dari sayuran dan ikan hingga camilan seperti pisang goreng [1]. Pada rica-rica, cabai rawit menjadi ciri yang disebut jelas: ayam atau ikan dibumbui dengan banyak cabai [1]. Jadi, cabai memang benang merah yang kuat, tetapi tidak dengan sendirinya menjelaskan seluruh karakter sebuah hidangan.
Asam juga punya peran tersendiri. Jeruk kasturi, yang dikenal pula sebagai lemon cui, digunakan untuk memberi rasa asam dan mengurangi amis pada ikan maupun daging [1]. Dalam dabu-dabu lilang, air jeruk hadir bersama irisan tomat, cabai rawit, bawang merah, garam, dan sedikit minyak goreng [1]. Dabu-dabu juga dikenal sebagai penyedap yang kerap digunakan pada hidangan laut, terutama ikan bakar, serta ayam bakar [2].
Bumbu memberi petunjuk tentang racikan
Rica-rica dan woku sama-sama digunakan untuk membumbui bahan seperti ayam atau ikan, tetapi keterangan yang tersedia menonjolkan banyaknya cabai rawit pada rica-rica, sementara woku disebut sebagai racikan bumbu tersendiri [1]. Pembedaan yang cermat berangkat dari hal yang memang diketahui itu, tanpa menganggap semua hidangan berbumbu memiliki komposisi atau tingkat pedas yang sama.
Dabu-dabu memberi petunjuk berbeda lewat bahan penyedapnya. Pada dabu-dabu lilang, tomat, cabai, bawang merah, dan air jeruk disebut dalam bentuk irisan atau campuran sederhana [1]. Perhatikan bahan yang menyusun bumbu dan bagaimana bumbu itu digunakan: dari situ, perbedaan antara sebuah lauk berbumbu dan hidangan yang mengandalkan dabu-dabu lebih mudah dikenali.
Bahan utama dan cara memasak ikut membentuk identitas
Cakalang fufu dikenal sebagai cakalang tuna asap, sedangkan mi cakalang menempatkan cakalang dalam sajian mi [1]. Keduanya sama-sama bertumpu pada ikan cakalang, tetapi nama dan bentuk hidangannya memberi petunjuk bahwa bahan yang sama dapat hadir dalam olahan berbeda. Kuah asam Manado pun tercantum sebagai hidangan tersendiri dalam ragam masakan setempat [1].
Perbedaan makin terlihat ketika cara memasak menjadi bagian dari sajian. Tinorangsak dibuat dari daging babi berbumbu yang dicampur darah, dimasukkan ke dalam bambu, lalu dibakar di atas api [1]. Di sini, bambu bukan sekadar nama bahan dalam daftar: cara memasak di dalamnya merupakan bagian penting dari pengenalan hidangan itu.
Ragamnya juga tampak pada bentuk makanan. Tinutuan dikenal sebagai bubur Manado, sementara brenebon adalah sup kacang merah [1]. Keduanya tidak perlu dipaksa masuk ke gambaran lauk pedas agar dianggap mewakili masakan Manado. Bahan utama, bentuk sajian, bumbu, dan metode memasak memberi petunjuk yang lebih berguna daripada satu label rasa untuk semuanya.
Mengenali ragam tanpa menyamaratakan
Saat membandingkan hidangan, mulailah dari apa yang paling jelas: bahan utamanya, bumbu yang disebut, dan cara pengolahannya. Cabai dapat tampil kuat pada rica-rica, dabu-dabu punya susunan bahan penyedap yang khas, cakalang fufu menonjolkan ikan asap, dan tinorangsak dikenali lewat proses memasak dalam bambu [1][2]. Dari petunjuk-petunjuk itu, keragaman masakan Manado terlihat lebih utuh—bukan satu rasa yang diulang, melainkan banyak cara meracik dan mengolah bahan.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia — Hidangan Minahasa. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29424486&title=Hidangan_Minahasa (diakses 2026-10-03).
- [2] Wikipedia bahasa Indonesia — Dabu-dabu. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29101153&title=Dabu-dabu (diakses 2026-10-03).